Tentang skip challenge yang dapat merenggut nyawa

Ada yang menyebutnya skip challenge, choking game, atau pass out challenge. Apapun sebutannya, permainan ini berbahaya dan dapat merenggut nyawa.

Sekitar sepekan lalu, tantangan berbahaya ini viral di kalangan pengguna media sosial di Indonesia. Banyak orang tua khawatir mengingat permainan ini marak di kalangan remaja. Apa itu skip challenge?

Permainan berbahaya ini dilakukan oleh dua orang atau lebih. Pemain ditekan dadanya sekeras mungkin selama beberapa waktu. Di saat yang sama suplai oksigen ke otak berkurang, lalu peserta pun tak sadarkan diri.

Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru. Centers for Disease Control and Prevention AS mencatat adanya tren choking game di Amerika Serikat sejak 1995 hingga 2005, pelakunya anak sekolah usia 9 sampai 16 tahun yang bukan pecandu atau anak bermasalah, melainkan anak-anak berprestasi. Selain itu skip challenge juga mengetren di kalangan remaja Inggris sejak 2005. Tantangan mematikan ini sudah memakan ratusan korban jiwa.

Ya, tantangan yang dianggap permainan oleh para pelakunya ini memang berbahaya bahkan mematikan. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Harapan Kita, Yoga Yuniadi menjelaskan, tekanan pada dada menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun, kondisi ini disebut hipoksia.

Dijelaskan Yoga, bagian pertama yang terdampak dalam aktivitas berbahaya ini adalah otak. Selain menurunnya kesadaran, bisa menyebabkan kejang, hingga kerusakan otak. “Hipoksia otak bila terjadi 4 menit akan menyebaban kerusakan otak yang bersifat permanen,” imbuh Yoga.

Aliran darah dalam otak normal adalah 50cc per 100 gram jaringan otak per menit. Apabila turun hingga kurang dari 30cc per 100 gram jaringan otak per menit, bisa menyebabkan gangguan fungsi otak. Demikian dijelaskan Dr dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpSdari RS Bethesda Yogyakarta.

Belum lagi apa yang terjadi saat pelaku skip challenge tak sadarkan diri lalu terjatuh. Terlalu banyak risiko, gegar otak hingga terkena benda tajam seperti yang menewaskan seorang siswa di Inggris hanyalah dua di antara sekian risiko.

Jika sedemikian berbahayanya tantangan ini, mengapa banyak anak yang melakukannya? Psikolog Tika Bisono menganggap hal tersebut wajar, “Mereka selalu mencari sesuatu yang baru. Sedang proses mencoba dan sedang dalam proses pembelajaran,” ujar Tika.

Sangat disayangkan proses mencoba itu tidak dibarengi dengan pemahaman utuh. “Mereka tidak tahu apa bahayanya, sehat apa enggak, dan lain sebagainya yang akhirnya proses coba-cobanya itu sering kali membahayakan dirinya,” Tika menjelaskan.

Dikutip dari No Bullying, salah satu alasan kenekatan para remaja menjajal aktivitas ini adalah demi merasakan efek memabukkan layaknya saat mengonsumsi obat-obatan terlarang. Para pelakunya yakin bahwa skip challenge lebih baik bagi tubuh daripada menggunakan narkotika karena tak merusak tubuh, juga bukanlah sesuatu yang ilegal.

Alasan lain praktik skip challenge adalah untuk mendapat pengakuan dari kelompok tertentu. “Dalam psikologi remaja, mereka ingin dianggap memiliki keberanian dan hebat,” jelas dr Nastiti Kaswandani dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Karena itu pula, melakukan tantangan ini dapat mereka artikan sebagai sesuatu yang keren.

Viralnya skip challenge pun melahirkan seruan dari banyak pihak, mulai dari Kak Seto hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan pejabat terkait lain yang melarang aktivitas ini.

“Permainan Skip Challenge sangat berbahaya bagi siswa dan ini harus diberikan larangan keras. Guru dan Kepala Sekolah perlu memberikan perhatian terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah,” kata Mendikbud. Muhadjir menambahkan, “Peran orang tua untuk memberikan pemahaman tentang risiko aktivitas berbahaya seperti skip challenge sangatlah penting,” ujarnya.

Senada dengan Pak Menteri, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan EniGustina mengingatkan betapa keluarga perlu memantau perkembangan dan perilaku anak. “Kerusakan atau matinya sel-sel otak sifatnya tidak dapat diperbaiki. Hal itu dapat memicu melemahnya intelegensia atau daya pikir seseorang. Ini yang perlu dipahami oleh anak-anak,” papar Eni.

Untuk itu, orang tua harus dapat menjelaskan efek tantangan berbahaya ini pada anak. Bahwa saat mereka kehilangan kesadaran, ada saja bahaya yang mengancam keselamatan, demikian kata psikolog Anita Chandra.

“Itulah perlunya keterbukaan komunikasi, ketika kita tahu, kita informasikan kepada anak. Ajak mereka mengobrol, tanyakan kepada mereka apakah mereka pernah melakukannya dan jelaskan juga risikonya,” urai Anita.

Sama seperti perisakan, anak sebaiknya diajar melapor pada guru atau orang tua saat ada pemaksaan di lingkungan sekolah. Anak juga perlu mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri saat tengah jadi korban yang melakukan sesuatu atas paksaan.

LEAVE A REPLY