Eraser challenge yang patut diwaspadai

Skip Challenge mulai mereda, kini marak lagi tantangan anyar yang tak kalah bahaya. Eraser challenge atau tantangan penghapus tengah populer di media sosial dan ditiru remaja. Lagi-lagi, peran besar orang tua dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan ini.

Di Barat, eraser challenge atau disebut juga ABC game sebetulnya bukanlah hal baru. Pada 2012 silam kasus ini pernah marak dan sempat mereda di tahun 2015 setelah seorang anak jadi korban. Akibat mengalami Toxic Shock Syndrome, yang berasal dari kuman penghapus kotor. Namun belum lama, kasus kembali mencuat. Lebih mengetren dan makin bahaya, hingga viral di media sosial.

Adalah sebuah sekolah di Amerika, East Iredelle Middle School (EIMS) yang kembali mengingatkan sekaligus mengimbau para orang tua untuk mewaspadai bahayanya tantangan eraser challenge sebelum jatuh korban.

Apa itu eraser challenge?

Mirror melaporkan, tantangan ini dilakukan para remaja dengan menggosok penghapus di kulit lengan sambil membaca abjad atau mengatakan sesuatu. Menghapus tangan pun harus secepat dan sekeras mungkin, tak boleh terputus hingga kulit lecet, bahkan terluka. Tujuannya untuk melihat berapa lama mereka bisa bertahan dari rasa sakit.

Versi terbaru agak berbeda. Hasil tantangan kemudian dibandingkan lewat media sosial dengan remaja lain. Luka makin parah makin baik, mereka lah yang dianggap pemenang. Walau beberapa anak juga berbagi foto dengan perban atau plester untuk menutupi luka dengan tagar #regret, tetap saja pernyataan kapok dan menyesal mereka terlambat.

Penyebaran tantangan secara luas lewat media sosial inilah yang juga dicemaskan banyak pihak, dan perlu mendapat perhatian lebih sehingga bisa dicegah.

Motivasi remaja melakukan tantangan berbahaya

Menurut Joelle Simpson, M.D., dokter trauma fisik di Children’s National Health System dikutip Time, tantangan merugikan tersebut dilakukan remaja atas dasar pamer sekaligus tekanan teman sebaya–yang berpikir bahwa itu hanyalah lelucon. Tidak lagi di dunia nyata, tapi lewat media sosial.

Dr. Wendy Sue Swanson, seorang dokter anak di Seattle juga mengaku tidak terkejut dengan aksi para remaja yang seperti ini. Menurutnya, anak-anak pasti berlaku seperti anak-anak.

Ada keberanian, ada contoh dan akses yang memudahkan, termasuk dinamika sosial yang dihadapi, tentu memungkinkan anak mencari perhatian atau menunjukkan mereka kuat dengan cara berbeda. Lebih penting, “orang tua dan guru harus mengingatkan anak mengenai dampak bahayanya,” katanya pada Today.

Apa saja bahaya di balik eraser challenge?

Para ahli menyebut tantangan eraser challenge berbahaya. Bukan hanya bagi fisik, tapi juga mental. Ketua umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa tantangan tersebut merupakan permainan bahaya yang murni berunsur kekerasan dan tidak membangun karakter anak.

Sementara dampak utamanya bagi fisik, adalah infeksi kulit. “Kapan saja penghalang kulit dipecah, ada peningkatan risiko infeksi kulit,” kata Angela Mattke, M.D., dari Mayo Clinic.

Luka bakar yang muncul dari panas atau bahan kimia, bisa merusak pelindung kulit alami sehingga potensi bakteri masuk meningkat–termasuk bakteri yang tadinya hidup normal di kulit–dan memicu infeksi. Jika lukanya serius, anak mungkin perlu antibiotik, bahkan lebih buruk dan bisa mengancam kehidupan, jelasnya dalam USA Today.

Bagaimana peran orang tua?

Sebab berdampak negatif, peran orang tua penting untuk mencegah anak-anak agar tidak mudah mengikuti segala bentuk fenomena tantangan di media sosial. Menurut Arist, salah satu caranya adalah membekali anak-anak dengan pendidikan moral dan agama.

“Orang tua harus bersiap untuk mengatakan ‘tidak’ pada permainan yang mengandung kekerasan. Orang tua harus mempersiapkan anak. Pemerintah juga harus memberikan pemberdayaan bagi keluarga agar mampu membekali anak supaya bisa menghadapi tantangan teknologi yang dihadapi,” jelas Arist.

Sementara jika sudah terlanjur terjadi, Dr Joelle Simpson juga menyarankan agar orang tua tetap tanggap dan waspada. Sebab, anak belum tentu selalu jujur soal yang dialaminya. Untuk luka yang tampak, segera cuci dengan sabun dan air, lalu oleskan salep antibiotik seperti Neosporin. Bawa ke dokter jika tak kunjung sembuh.

Selain itu, walau mewajarkan, orang tua tidak boleh abai. Bicarakan secara terbuka tentang apa dan mengapa hal ini terjadi, untuk menghindari masalah serupa di masa mendatang, tutup Dr. Simpson.

LEAVE A REPLY