Dinilai Punya Potensi Pasar, Tiga Tim Terbaik Curi Perhatian Juri di Hacksprint Gerakan Nasional 1000 Startup Malang

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Malang telah mencapai tahapan Hacksprint yang digelar di Gedung Aula A3, Universitas Negeri Malang pada tanggal 18-19 Maret 2017 kemarin. Selama dua hari, 22 tim dituntut untuk membuat purwarupa dari ide startup yang mereka kembangkan  menjadi sebuah prototype dengan bisnis model yang matang menggunakan metode design sprint.

Hacksprint adalah tahapan lanjutan setelah fase Ignition dan Workshop dari rangkaian program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital bersama Acer sebagai official technology partner. Metode Hacksprint merupakan generasi baru dari hackathon yang dikemas lebih terstruktur dan terarah dengan menggunakan metode design sprint. Pada fase ini, setiap tim yang terdiri atas 3-5 orang akan membuat purwarupa dari produk yang ingin mereka ciptakan.

“Secara keseluruhan peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Malang itu saya suka sekali semangatnya. Malang memang masih dalam tahap membangun ekosistem startup, tapi semangat para pelaku startup disana sangat terlihat dari antusiasmenya mengikuti rangkaian Gerakan Nasional 1000 Startup Digital,” ujar Fadli Wilihandarwo, CEO Pasienia, Sprint Master  Hacksprint di Malang.

Beraneka ragam ide yang dinilai cukup unik oleh dewan juri tidak serta merta membuat peserta berbangga diri. Para mentor terus memaksa semua tim untuk terus melakukan validasi terhadap produk mereka. “Apakah produk yang dibuat benar-benar menjadi sosusi orang banyak atau hanya menjawab permasalah mereka (peserta) sendiri,” jelas Sandy Colondam, Co-founde Picmix, pada saat penjurian. Selain Sandy, juri Hacksprint kali ini ada Leonika Sari (CEO Reblood), Arianti Silvia (Senior Designer, PT Kreatif Media Karya), dan Gatot Wahyu Widharto (Business Development, PT Beon Intermedia).

Pada sesi Final Pitching, terdapat 10 tim yang berkesempatan mempresentasikan produk yang telah dibuat di depan para dewan juri. Telah terpilih 3 tim terbaik dengan penilaian dari segi kesiapan produk, bisnis model, desain produk, hingga solusi yang ditawarkan dari statup yang mereka buat. Berikut tiga tim terbaik Hacksprint Malang:

  1. LactaShare: Platform penghubung donor/resipien serta konselor ASI yang sesuai shar’i yang terjamin cepat, tepat, dan aman pertama di Indonesia.
  2. Trash-Ure: Startup pengelola sampah dari hulu ke hilir, menghubungkan antara pemilik sampah dan pemulung yang susah mencari sampah setiap harinya.
  3. id: Situs lelang mainan pertama di Indonesia yang mempertemukan penjual mainan dan kolektor mainan dalam satu situs lelang dengan sistem lelang yang otomatis untuk melakukan bid.

“Sekali lagi ini bukan kompetisi. Perjalanan startup itu masih panjang. Harapannya, setelah melewati tahapan ini semua tim bisa lebih fokus dengan produk yang digarap. Masih ada tahapan Bootcamp dan Incubation yang menunggu,” pungkas Tommy Herdiansyah, founder Code Margonda.

Setelah Hacksprint, peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Malang akan memasuki tahapan Bootcamp yang sudah fokus pada pengembangan produk untuk bisa terjun ke pasar. Seluruh tim juga akan difasilitasi ruang untuk bekerja serta perlengkapannya di Ngalup coworking space  hingga akses ke pihak lain agar dapat berkolaborasi dengan tim mereka.

LEAVE A REPLY