Bahaya di Balik Manisnya Gula

Gula ternyata bisa memicu berbagai macam penyakit seperti obesitas, diabetes, kanker dan kecanduan. © Pixabay
Gula ternyata bisa memicu berbagai macam penyakit seperti obesitas, diabetes, kanker dan kecanduan. © Pixabay

Selama bertahun-tahun orang menyalahkan lemak jenuh sebagai penyebab penyakit jantung. Penyakit ini sudah lama menjadi salah satu pembunuh nomor satu di dunia.

Seperti dipaparkan oleh The New York Times, para peneliti telah mengungkapkan bahwa industri gula menggunakan uang dan pengaruh yang mereka miliki untuk menyalahkan lemak jenuh, bukan gula, sebagai penyebab penyakit jantung pada 1960-an.

Analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA yang menggunakan dokumen-dokumen dari arsip dan perpustakaan telah berhasil merekonstruksi hubungan antara industri gula dengan tiga peneliti dari Harvard sepanjang 1960-an. Industri gula lewat Sugar Research Foundation, sebuah asosiasi dagang yang kemudian berubah namanya menjadi Sugar Association, telah membayar para ilmuwan itu sebesar USD49.000 (sekitar Rp645 juta) untuk melakukan ulasan ilmiah terhadap berbagai literatur tentang gula, lemak dan penyakit jantung koroner.

Inverstigasi yang dilakukan sekitar 50 tahun yang lalu itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bergengsi, yaitu New England Journal of Medicine. Sayangnya ternyata para peneliti ini memilah-milah data sehingga kesimpulan yang dihasilkan sesuai dengan keinginan pemberi dana penelitian. Disimpulkan bahwa lemak, bukan gula, berhubungan dengan penyakit jantung koroner. Pada saat penelitian itu diterbitkan, para ilmuwan tidak secara terbuka memberitahu siapa yang mendanai penelitian itu.

Sementara itu penelitian yang lebih mutakhir yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition membuktikan bahwa lemak jenuh tidak berbahaya. Dan ternyata justru gula, bukan lemak, yang menjadi pemicu penyakit jantung karena bahaya yang disebabkan oleh fruktosa terhadap metabolisme tubuh.

Penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan jumlah fruktosa yang banyak bisa meningkatkan trigliserida, meningkatkan LDL dan meningkatkan glukosa dan kadar insulin serta menyebabkan obesitas perut hanya dalam 10 pekan. Semua ini adalah faktor terbesar pemicu penyakit jantung.

Selain sebagai penyebab penyakit jantung, berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, gula ternyata juga sumber berbagai masalah lain dalam tubuh, yaitu:

Merusak gigi
Sejak kecil kita sudah diingatkan bahaya makan permen terlalu banyak. Dan ternyata orang tua kita benar. Gula dalam bentuk sukrosa dan sirop jagung yang mengandung fruktosa tinggi yang sering digunakan sebagai bahan pembuatan permen ternyata mengandung banyak kalori tapi tanpa nutrisi esemsial. Oleh sebab itu gula juga disebut kalori kosong (empty calories).

Gula menyebabkan gigi berlubang dan keropos karena gula menyediakan energi yang dengan mudah bisa dicerna oleh bakteri di dalam mulut.

Membebani hati
Sebelum masuk ke dalam aliran pembuluh darah dari saluran pencernaan, gula diurai menjadi bentuk yang lebih sederhana yaitu glukosa dan fruktosa. Glukosa bisa ditemukan di semua sel mahluk hidup di planet ini. Jika kita tidak mendapatkan glukosa dari asupan makanan, tubuh akan memproduksi glukosa.

Ini berbeda dengan fruktosa yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh. Tubuh juga sebenarnya tidak membutuhkan fruktosa. Fruktosa inilah yang kemudian masuk ke dalam hati. Fruktosa tidak membahayakan jika kita makan tidak terlalu banyak (misalnya dari buah-buahan). Fruktosa ini akan diubah menjadi glikogen dan disimpan di dalam hati (liver)sampai kita membutuhkannya.

Namun masalah muncul ketika jumlah fruktosa yang harus diurai sangat banyak atau berlebihan. Jika hal itu terjadi, fruktosa akan diubah menjadi lemak. Harus diingat bahwa kita tidak mungkin kelebihan fruktosa yang berasal dari buah-buahan.

Resistensi insulin
Resistensi insulin adalah kondisi di mana insulin – hormon yang dikeluarkan oleh pankreas untuk mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh – tidak lagi bekerja dengan semestinya. Sel-sel tubuh memerlukan gula (glukosa) untuk mendapatkan energi. Ketika mengonsumsi karbohidrat, tubuh kita akan mengubahnya menjadi glukosa.

Kandungan glukosa yang sangat tinggi dalam darah bisa menjadi racun. Ini menjadi salah satu alasan terjadinya komplikasi penderita diabetes, misalnya kebutaan, sindrom metabolisme, kegemukan, penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Karena gula bisa menyebabkan resistensi insulin, tidak mengherankan jika risiko orang yang banyak minum minuman berpemanis berpeluang 83 persen lebih tinggi untuk mengidap diabetes tipe 2.

Penyakit kanker
Kanker kini menjadi salah satu penyebab kematian di dunia. Perkembangan sel yang tidak bisa dikendalikan adalah salah satu karakteristik utama kanker.

Insulin adalah salah satu hormon yang mengatur perkembangan sel. Oleh karena itu banyak ilmuwan yang percaya bahywa kadar insulin yang tinggi bisa memicu kanker. Selain itu, problem metabolisme yang berhubungan dengan asupan gula selama ini diketahui bisa memicu peradangan yang bisa pula akhirnya menyebabkan kanker. Banyak penelitian yang mengungkapkan hubungan antara kadar gula yang tinggi dengan meningkatnya risiko kanker.

Kecanduan
Bagi banyak orang ternyata gula bisa menyebabkan kecanduan. Seperti halnya obat terlarang, gula juga bisa melepaskan dopamine ketika dikonsumsi. Dopamine adalah suatu bahan kimia yang berguna untuk membangkitkan perasaan menyenangkan.

Efek gula ini mirip dengan efek saat orang mengonsumsi makanan cepat saji. Satu-satunya jalan untuk mencegah kecanduan gula adalah mengurangi asupan gula.

Menyebabkan obesitas
Kebiasaan mengasup gula akan menyebabkan penimbunan lemak berbahaya pada bagian perut. Timbunan lemak viseral di bagian perut adalah penanda bagi kondisi kesehatan yang buruk, seperti masalah peradangan dan tekanan darah tinggi.

“Studi yang diterbitkan dalam Mayo Clinic Proceedings jelas menunjukkan bahwa gula adalah penyebab utama dalam masalah diabetes,” kata James J. DiNicolantonio, seorang ilmuwan penelitian kardiovaskular di Saint Luke Mid America Heart Institute seperti dikutip dari KOMPAS.com.

LEAVE A REPLY